Mungkin sebagian dari kita masih asing dengan sosok George Ferris. Ia adalah seorang ahli teknik atau insinyur asal Amerika Serikat yang berhasil menciptakan beberapa penemuan menarik. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah komedi putar raksasa atau yang kemudian dikenal dengan nama Ferris Wheel. Lantas, apa hubungan George Ferris, komedi putar, dan perayaan hari Valentinealias hari kasih sayang?
Salah satu jawabannya adalah 14 Februari. Ya, itulah tanggal di mana hari Valentine diperingati di seluruh dunia setiap tahunnya. George Ferris ternyata juga dilahirkan di tanggal tersebut, tepatnya pada 14 Februari 1859 di Galesburg, Illinois, Amerika Serikat. Nama aslinya sebenarnya cukup panjang, yaitu George Washington Gale Ferris, Jr., yang merupakan putera dari pasangan George Washington Gale Ferris Sr. dan Martha Edgerton Hyde.
Singkat cerita, setelah melalui berbagai lika-liku dalam kehidupannya, George Ferris pada akhirnya menjadi seorang insinyur. Pada tahun 1891, penyelenggara World’s Columbian Exposition, yang merupakan salah satu ajang pameran terbesar pada saat itu, mengadakan sayembara untuk para insinyur di Amerika Serikat. Mereka ditantang untuk membuat suatu karya orisinil yang berani, unik, dan bisa mengungguli Menara Eiffel di Prancis yang sangat kesohor itu.
George Ferris pun mencoba peruntungannya dengan mengajukan disain komedi putar raksasa rancangannya. Menurut George Ferris, komedi putar raksasa yang akan dibuatnya bakal bisa melebihi Menara Eiffel. Dengan menaiki karyanya itu, para pengunjung akan dapat melihat keseluruhan pameran dari atas, dan itu adalah pemandangan yang sangat menakjubkan serta akan menjadi saat-saat romantis bagi pasangan yang berada di sana.
Awalnya, pihak penyelenggara merasa ragu dengan rancangan yang diajukan oleh George Ferris tersebut dengan alasan keamanan. Namun, George Ferris kemudian berhasil memastikan keamanan komedi putar raksasa buatannya itu. Akhirnya, komedi putar raksasa karya George Ferris yang lantas diberi nama Ferris Wheel tersebut berhasil dihadirkan dalam ajang World’s Columbian Exposition yang digelar di Chicago pada tahun 1893.
Ternyata, di masa-masa yang akan datang, banyak kisah romantis yang terjadi dan terkait erat dengan komedi putar raksasa yang pertamakali diciptakan oleh George Ferris itu. Dengan demikian, hari lahir George Ferris, juga komedi putar ciptaannya, ternyata memiliki benang merah dengan perayaan hari kasih sayang yang diperingati setiap tanggal 14 Februari itu. Sayangnya, George Ferris mati muda di usia 37 tahun pada 22 November 1896, di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat.
Sumber : http://sidomi.com/162442/george-ferris/
#kagolASMORO
Kamis, 14 Februari 2013
George Ferris: Penemu Komedi Putar yang Lahir di Hari Valentine

Mungkin sebagian dari kita masih asing dengan sosok George Ferris. Ia adalah seorang ahli teknik atau insinyur asal Amerika Serikat yang berhasil menciptakan beberapa penemuan menarik. Salah satu karyanya yang paling terkenal adalah komedi putar raksasa atau yang kemudian dikenal dengan nama Ferris Wheel. Lantas, apa hubungan George Ferris, komedi putar, dan perayaan hari Valentinealias hari kasih sayang?
Salah satu jawabannya adalah 14 Februari. Ya, itulah tanggal di mana hari Valentine diperingati di seluruh dunia setiap tahunnya. George Ferris ternyata juga dilahirkan di tanggal tersebut, tepatnya pada 14 Februari 1859 di Galesburg, Illinois, Amerika Serikat. Nama aslinya sebenarnya cukup panjang, yaitu George Washington Gale Ferris, Jr., yang merupakan putera dari pasangan George Washington Gale Ferris Sr. dan Martha Edgerton Hyde.
Singkat cerita, setelah melalui berbagai lika-liku dalam kehidupannya, George Ferris pada akhirnya menjadi seorang insinyur. Pada tahun 1891, penyelenggara World’s Columbian Exposition, yang merupakan salah satu ajang pameran terbesar pada saat itu, mengadakan sayembara untuk para insinyur di Amerika Serikat. Mereka ditantang untuk membuat suatu karya orisinil yang berani, unik, dan bisa mengungguli Menara Eiffel di Prancis yang sangat kesohor itu.
George Ferris pun mencoba peruntungannya dengan mengajukan disain komedi putar raksasa rancangannya. Menurut George Ferris, komedi putar raksasa yang akan dibuatnya bakal bisa melebihi Menara Eiffel. Dengan menaiki karyanya itu, para pengunjung akan dapat melihat keseluruhan pameran dari atas, dan itu adalah pemandangan yang sangat menakjubkan serta akan menjadi saat-saat romantis bagi pasangan yang berada di sana.
Awalnya, pihak penyelenggara merasa ragu dengan rancangan yang diajukan oleh George Ferris tersebut dengan alasan keamanan. Namun, George Ferris kemudian berhasil memastikan keamanan komedi putar raksasa buatannya itu. Akhirnya, komedi putar raksasa karya George Ferris yang lantas diberi nama Ferris Wheel tersebut berhasil dihadirkan dalam ajang World’s Columbian Exposition yang digelar di Chicago pada tahun 1893.
Ternyata, di masa-masa yang akan datang, banyak kisah romantis yang terjadi dan terkait erat dengan komedi putar raksasa yang pertamakali diciptakan oleh George Ferris itu. Dengan demikian, hari lahir George Ferris, juga komedi putar ciptaannya, ternyata memiliki benang merah dengan perayaan hari kasih sayang yang diperingati setiap tanggal 14 Februari itu. Sayangnya, George Ferris mati muda di usia 37 tahun pada 22 November 1896, di Pittsburgh, Pennsylvania, Amerika Serikat.
Sumber : http://sidomi.com/162442/george-ferris/
Sabtu, 02 Februari 2013
'@Java_Heat', Lanskap Indonesia di Layar Hollywood
Metrotvnews.com, Jakarta: Film laga Hollywood, Java Heat, tak lama lagi tayang di bioskop-bioskop dunia. Yang tak boleh dilewatkan, film bergenrethriller action garapan sutradara Conor Allyn ini akan bercerita tentang Indonesia.
Pasalnya, film ini mengisahkan tentang penculikan puteri Kraton Yogyakarta. Selain menculik puteri, para penjahat bertitel internasional itu juga menggondol perhiasan milik istana. Kasus ini membuat polisi Indonesia pusing. Karenanya, mereka akan dibantu tim profesional dari Amerika Serikat untuk ikut mengungkap kasus ini.
Film ini akan diramaikan para aktor terkenal Hollywood dan dalam negeri. Pemeran utama film ini ialah Kellan Lutz yang berperang sebagai Jake Travers. Selain itu, ada juga bintang Hollywood yang bermain di The Wrestler dan Iron Man 2, Mickey Rourke.
Sejumlah bintang film Indonesia yang ikut nampang di Java Heat antara lain Atiqah Hasiholan, Ario Bayu, Rudy Wowor, Rio Dewanto, dan Tio Pakusodewo.
Dalam pembuatannya, Java Heat banyak mengambil setting adegan di Candi Borobudur dan sekitar Yogyakarta. Film ini rencananya dirilis pada 18 April 2013. (Afw)
AWAL BERDIRINYA
Gelgel adalah nama sebuah desa yang terletak di Kabupaten daerah tingkat II Klungkung. Dari Desa Samprangan, jaraknya tidak begitu jauh, hanya 17 km menuju jurusan Timur. Letaknya tidak begitu jauh dari pantai Selatan Bali dan di sebelah Timur mengalir Kali Unda yang airnya bersumber dari lereng Gunung Agung yaitu mata air yang bernama Telaga Waja.
Setelah Dalem Batur Enggong wafat digantikan oleh Dalem Sagening dari tahun 1380-1665 M. Pada masa ini muncul Pujangga, Pangeran Telaga di mana tahun 1582 mengarang : 1. Amurwatembang, 2. Rangga Wuni, 3. Amerthamasa, 4. Gigateken, 5. Patal, 6. Sahawaji, 7. Rarengtaman, 8. Rarakedura, 9. Kebo Dungkul, 10. Tepas dan 11. Kakansen. Sedangkan Kyai Pande Bhasa mengarang : Cita Nathamarta, Rakkriyan Manguri mengarang : Arjunapralabdha, Pandya Agra Wetan mengarang : Bali Sanghara.
Pura-pura yang dibangun atas petunjuk Dang Hyang Dwijendra adalah :
Pura Purancak di Jembrana,
Pura Rambut Siwi di dekat desa Yeh Embang dibangun kembali atas petunjuk beliau dan di sana disimpan potongan rambut Dang Hyang Dwijendra,
Pura Pakendungan di desa Braban Tabanan, di sini disimpan keris beliau.
Pura Sakti Mundeh dekat desa Kaba-kaba Tabanan.
Pura Petitenget di pantai laut dekat desa Kerobokan (Badung) di sini disimpan pecanangan (kotak tempat sirih) dan
Pura Dalem Gandhamayu yang terletak di desa Kamasan (Klungkung) di tempat itu beliau menemukan bau harum sebagai isyarat dari Hyang widhi.
PEMERINTAHAN RAJA RAJA GELGEL
DALEM KETUT NGULESIR ( 1320 - 1400 ) M
Merupakan raja pertama dari periode Gelgel yang berkuasa selama lebih kurang 20 tahun (tahun 1320-1400). Ada beberapa yang dapat diamati selama masa pemerintahan raja Gelgel pertama, raja dikatakan berparas sangat tampan ibarat Sanghyang Semara, serta memerintah dengan bijaksana dan selalu berpegang pada Asta Brata.
Dalem Ktut Ngulesir adalah seorang raja yang adil, suka memberi penghargaan kepada orang yang berbuat baik, serta tidak segan-segan menghukum mereka yang berbuat salah. Baginda menganugrahkan suatu predikat tanda penghargaan wangsa "Sanghyang" dengan sebutan "Sang" kepada masyarakat desa Pandak, di mana mereka bermukim dahulu.
Pura Dasar Gelgel
Pada masa pemerintahan prabhu Hayam Wuruk yang mengadakan upacara Cradha dan rapat besar, dihadiri pula oleh Dalem Ktut Ngulesir beserta semua raja-raja di kawasan Nusantara. Kehadiran dengan tata kebesaran itu menimbulkan kekaguman para raja yang lain serta masyarakat yang menyaksikan. Beliau disertai oleh Patih Agung, Arya Patandakan, dan Kyai Klapodyana (Gusti Kubon Tubuh).
DALEM BATUR ENGGONG ( 1460 - )
Dalem Batur Enggong memerintah mulai tahun 1460 M dengan gelar Dalem Batur Enggong Kresna Kepakisan, dalam keadaan negara yang stabil. Hal ini telah ditanamkan oleh almarhum Dalem Ktut Ngulesir, para mentri dan pejabat-pejabat lainnya demi untuk kepentingan kerajaan.
Dalem dapat mengembangkan kemajuan kerajaan dengan pesat, dalam bidang pemerintahan, sosial politik, kebudayaan, hingga mencapai zaman keemasannya. Jatuhnya Majapahit tahun 1520 M tidak membawa pengaruh negatif pada perkembangan Gelgel, bahkan sebaliknya sebagai suatu spirit untuk lebih maju sebagai kerajaan yang merdeka dan berdaulat utuh. Beliau adalah satu-satunya raja terbesar dari dinasti Kepakisan yang berkuasa di Bali, yang mempunyai sifat-sifat adil, bijaksana.
DALEM BEKUNG
Setelah wafatnya Dalem Watur Enggong, maka menurut tradisi yang berlaku, baginda digantikan oleh putra sulungnya yaitu I Dewa Pemayun, yang selanjutnya disebut Dalem Bekung. Karena umurnya belum dewasa, maka pemerintahannya dibantu oleh para paman dan Patih Agung. Para paman yang membantu adalah : I Dewa Gedong Artha, I Dewa Nusa, I Dewa Pagedangan, I Dewa Anggungan dan I Dewa Bangli. Kelima orang itu adalah putra I Dewa Tegal Besung saudara sepupu Dalem Waturenggong.
DALEM SAGENING
Dalem Sagening dinobatkan menjadi raja pada tahun 1580 M. Menggantikan Dalem Bekung dalam suasana yang amat menyedihkan, dan Dalem Sagening seorang raja yang amat bijaksana, cerdas, berani, berwibawa maka dalam waktu yang singkat keamanan kerajaan Gelgel pulih kembali. Sebagai Patih Agung adalah Kryan Agung Widia putra pangeran Manginte, sedangkan adiknya Kryan Di Ler Prenawa diberikan kedudukan Demung.
Dalem Sagening menetapkan putra-putra baginda di daerah-daerah tertentu, dengan jabatan sebagai anglurah antara lain :
I Dewa Anom Pemahyun, ditempatkan di desa Sidemen (Singarsa) dengan jabatan Anglurah pada tahun 1541 M, dengan patih I Gusti Ngurah Sidemen Dimade dengan batas wilayah di sebelah timur sungai Unda sampai sungai Gangga, dan batas wilayah di sebelah utara sampai dengan Ponjok Batu.
I Dewa Manggis Kuning,( I Dewa Anom Manggis) beribu seorang ksatria dari Manggis, atas permohonan I Gusti Tegeh Kori dijadikan penguasa di daerah Badung. Namun karena sesuatu peristiwa beliau terpaksa meninggalkan daerah Badung, pindah ke daerah Gianyar.
Kyai Barak Panji, beribu dari Ni Pasek Panji, atas perintah Dalem di tempatkan di Den Bukit sebagai penguasa di daerah itu, dibantu oleh keturunan Kyai Ularan. Dia sebagai pendiri kerajaan Buleleng yang kemudian bernama I Gusti Panji Sakti.
Dalem Anom Pemahyun. Setelah Dalem Sagening wafat pada tahun 1665, maka I Dewa Anom Pemahyun dinobatkan menjadi Raja dengan gelar Dalem Anom Pemahyun. Dalam menata pemerintahan Dalem belajar dari sejarah dan pengalaman. Karena itu secara progresif dia mengadakan pergantian para pejabat yang kurang diyakini ketulusan pengabdiannya.
Dalem Dimade. Setelah Dalem Anom Pemahyun meninggalkan istana Gelgel, maka I Dewa Dimade dinobatkan menjadi susuhunan kerajaan Bali dengan gelar Dalem Dimade 1665-1686, seorang raja yang sabar, bijaksana dalam mengemban tugas, cakap memikat hati rakyat. Patih Agung adalah Kyai Agung Dimade (Kryan Agung Maruti) berkemauan keras dan bercita-cita tinggi. Kyai Agung Dimade adalah anak angkat I Gusti Agung Kedung. Sebagai demung diangkat Kryan Kaler Pacekan dan Tumenggung adalah Kryan Bebelod.
KRYAN AGUNG MARUTI
Kebesaran kerajaan Gelgel yang pernah dicapai kini hanya tinggal kenang-kenangan di dalam sejarah. Setelah Dalem Dimade meninggalkan istana Gelgel tahun 1686 M maka kekuasaan di pegang oleh Kryan Agung Maruti sebagai raja Gelgel. Namun Bali tidak lagi merupakan kesatuan di bawah kekuasaan Gelgel, malainkan Bali mengalami perpecahan di antara para pemimpin, kemudian mucul kerajaan-kerajaan kecil yang berdaulat, sehingga daerah kekuasaan Kryan Maruti tidak seluas daerah kekuasaan kerajaan Gelgel yang dahulu.
Gelgel adalah nama sebuah desa yang terletak di Kabupaten daerah tingkat II Klungkung. Dari Desa Samprangan, jaraknya tidak begitu jauh, hanya 17 km menuju jurusan Timur. Letaknya tidak begitu jauh dari pantai Selatan Bali dan di sebelah Timur mengalir Kali Unda yang airnya bersumber dari lereng Gunung Agung yaitu mata air yang bernama Telaga Waja.
| Pembangunan Pura Dasar Gelgel |
Ada tiga hal yang dapat diamati pada proses perpindahan dari ibu kota dari Samprangan ke Sweca pura (Gelgel). Pertama, proses perpindahan tersebut berjalan secara lancar dan Agra Samprangan menerima kenyataan bahwa ia tidak mendapat dukungan lagi dari pembesar kerajaan. Kedua, perpindahan pusat pemerintahan ini lebih banyak dipertimbangkan atas dasar kebijaksanaan dalam bidang politik. Ketiga, ada kemungkinan juga dipertimbangkan latar belakang komunikasi dan transportasi.
STRUKTUR PEMERINTAHAN
Raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, dibantu oleh raja kerajaan yang terdiri atas kaum bangsawan disebut dengan nama bahunada atau tanda mantri. Para bahudanda atau pembesar kerajaan pada umumnya diambil dari keluarga istana, kerabat kerajaan yang dianggap berjasa atau dalam ikatan kekerabatan dengan raja. Hubungan antara raja dan rakyat diatur melalui suatu birokrasi yang sudah merupakan suatu sistem pemerintahan tradisional. Di dalam menjalankan tugas sehari-hari raja di dampingi oleh pendeta kerajaan yang disebut Bhagawanta atau purohita.
Dari pendeta Ciwa dan Buddha yang berfungsi sebagai penasehat raja dalam masalah-masalah keagamaan. Bhagawanta biasanya adalah keturunan dari putra-putra Dang Hyang Nirartha yang termasuk keturunan Brahmana Kemenuh yang diturunkan dari istri Dang Hyang Nirartha yang pertama yang berasal dari Daha yang bernama Diah Komala.
SISTEM KEPEMIMPINAN
Golongan ksatria memegang pimpinan di dalam pemerintahan. Hak golongan ksatria ini untuk memegang pemerintahan dianggap sebagai karunia Tuhan, Brahmokta Widisastra memberikan keterangan golongan ksatria lahir dari tugas khusus. Pekerjaan mereka hanya memerintah, mengenal ilmu peperangan. Orang-orang yang memegang jabatan di bawah raja merupakan keturunan para Arya yang menaklukkan kerajaan Bali kuna. Secara turun temurun mereka memakai gelar "I Gusti" atau "Arya" seperti Arya Kepakisan, I Gusti Kubon Tubuh, I Gusti Agung Widia, I Gusti Agung Kaler Pranawa dan lain-lain.
Untuk mengatur dan mengendalikan segala kelakuan dan kehidupan masyarakat diperlukan adanya hukum. dalam masyarakat Majapahit berlaku hukum tertulis dalam sebuah buku yang bernama Manawa Dharma Sastra sedangkan di Bali dikenal buku yang berjudul Sang Hyang Agama.
KEHIDUPAN KEAGAMAAN
Pengaruh agama Hindu dalam kehidupan masyarakat Bali sangat besar. Hampir semua aspek kehidupannya dipancari oleh ajaran-ajaran agama Hindu sehingga kehidupan masyarakatnya dapat dikatakan bersifat keagamaan atau sosial religious.
Kepercayaan agama Hindu yang terpenting adalah kepercayaan yang disebut Sradha (lima keyakinan pokok) yang mencakup :
Percaya akan adanya satu Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa, dalam bentuk konsep Tri Murti. Tri Murti mempunyai tiga wujud atau manifestasi ialah : Brahma yang menciptakan, Wisnu memelihara dan Siwa mempralina.
Percaya terhadap konsep atman (roh abadi).
Percaya terhadap punarbhawa (kelahiran kembali dari jiwa).
Percaya terhadap hukum karmaphala (adanya buah dari setiap perbuatan).
Percaya akan adanya moksa (kebebasan jiwa dari lingkaran kelahiran kembali).
Pengaruh kepercayaan dalam masyarakat juga amat besar. Salah satu wujud dari pengaruh ini tampak dalam konsepsi dan aktifitas upacara yang muncul dalam frekwensi yang tinggi dalam kehidupan masyarakat Bali, baik upacara yang dilaksanakan oleh kelompok kerabat maupun oleh komunitas. Keseluruhan jenis upacara di Bali digolongkan ke dalam lima macam yang disebut Panca yadnya, yaitu :
Dewa Yadnya, merupakan upacara-upacara pada putra maupun Pura Keluarga, yang ditujukan kepada para Dewa sebagai manifestasi Hyang Widhi.
Rsi Yadnya, merupakan upacara yang berhubungan orang-orang suci yang berjasa dalam pembinaan agama Hindu.
Pitra Yadnya, merupakan upacara yang di tujukan kepada roh-roh leluhur, meliputi upacara kematian sampai pada upacara penyucian roh leluhur.
Bhuta Yadnya, meliputi upacara yang ditujukan kepada bhuta kala yaitu roh-roh di sekitar manusia yang dapat mengganggu.
Manusa Yadnya, meliputi upacara daur hidup dari masa kanak-kanak sampai dewasa.
BIDANG PENDIDIKAN, KESENIAN, KESUSASTRAAN
Pendidikan ketika ini mempunyai corak yang sesuai dengan masyarakat tradisional. Pendidikan dilakukan oleh golongan elite atau inisiatif pribadi. Pendidikan yang menonjol pada waktu itu adalah pendidikan keagamaan dan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kerajaan.
Pura Dasar Gelgel
Orang-orang yang memberikan pendidikan terdiri dari orang-orang Brahmana. Orang-orang yang memberikan pelajaran disebut Sang Guru. Orang yang belajar disebut "sisya". Dalam proses belajar di sebut "aguru" sedangkan proses memberikan pelajaran disebut "asisia". Sebagai seorang sisya harus mentaati peraturan-peraturan yang ketat.
Sejak runtuhnya kerajaan Majapahit (1523 M) banyak warganya mengungsi ke Bali dengan memindahkan segala yang dapat di bawa, termasuk seni dan budaya dengan seni tarinya. Kemudian seni tari ini berkembang dengan suburnya terutama zaman keemasan pemerintahan Dalem Batur Enggong (1460-1550). Hal in disebabkan raja menaruh perhatian besar dan memberikan pengayoman terhadap perkembangan kesenian khususnya seni tari di samping pemerintahan yang aman dan tentram.
Dalam masa Pemerintahan Dalem Batur Enggong di Bali, naskah-naskah lontar banyak dibawa dari Jawa ke Bali. Kalau kiranya yang demikian tidak terjadi, maka tidak akan banyak lagi yang tinggal dari kesusastraan Jawa Kuna. Kebanyakan naskah lama kedapatan di Bali karena di Jawa naskah Kuna kurang mendapat perhatian lagi karena masuknya Islam.
Raja sebagai pemegang kekuasaan tertinggi, dibantu oleh raja kerajaan yang terdiri atas kaum bangsawan disebut dengan nama bahunada atau tanda mantri. Para bahudanda atau pembesar kerajaan pada umumnya diambil dari keluarga istana, kerabat kerajaan yang dianggap berjasa atau dalam ikatan kekerabatan dengan raja. Hubungan antara raja dan rakyat diatur melalui suatu birokrasi yang sudah merupakan suatu sistem pemerintahan tradisional. Di dalam menjalankan tugas sehari-hari raja di dampingi oleh pendeta kerajaan yang disebut Bhagawanta atau purohita.
Dari pendeta Ciwa dan Buddha yang berfungsi sebagai penasehat raja dalam masalah-masalah keagamaan. Bhagawanta biasanya adalah keturunan dari putra-putra Dang Hyang Nirartha yang termasuk keturunan Brahmana Kemenuh yang diturunkan dari istri Dang Hyang Nirartha yang pertama yang berasal dari Daha yang bernama Diah Komala.
SISTEM KEPEMIMPINAN
Untuk mengatur dan mengendalikan segala kelakuan dan kehidupan masyarakat diperlukan adanya hukum. dalam masyarakat Majapahit berlaku hukum tertulis dalam sebuah buku yang bernama Manawa Dharma Sastra sedangkan di Bali dikenal buku yang berjudul Sang Hyang Agama.
KEHIDUPAN KEAGAMAAN
Pengaruh agama Hindu dalam kehidupan masyarakat Bali sangat besar. Hampir semua aspek kehidupannya dipancari oleh ajaran-ajaran agama Hindu sehingga kehidupan masyarakatnya dapat dikatakan bersifat keagamaan atau sosial religious.
Kepercayaan agama Hindu yang terpenting adalah kepercayaan yang disebut Sradha (lima keyakinan pokok) yang mencakup :
Percaya akan adanya satu Tuhan, Ida Sang Hyang Widhi, Tuhan Yang Maha Esa, dalam bentuk konsep Tri Murti. Tri Murti mempunyai tiga wujud atau manifestasi ialah : Brahma yang menciptakan, Wisnu memelihara dan Siwa mempralina.
Percaya terhadap konsep atman (roh abadi).
Percaya terhadap punarbhawa (kelahiran kembali dari jiwa).
Percaya terhadap hukum karmaphala (adanya buah dari setiap perbuatan).
Percaya akan adanya moksa (kebebasan jiwa dari lingkaran kelahiran kembali).
Pengaruh kepercayaan dalam masyarakat juga amat besar. Salah satu wujud dari pengaruh ini tampak dalam konsepsi dan aktifitas upacara yang muncul dalam frekwensi yang tinggi dalam kehidupan masyarakat Bali, baik upacara yang dilaksanakan oleh kelompok kerabat maupun oleh komunitas. Keseluruhan jenis upacara di Bali digolongkan ke dalam lima macam yang disebut Panca yadnya, yaitu :
Dewa Yadnya, merupakan upacara-upacara pada putra maupun Pura Keluarga, yang ditujukan kepada para Dewa sebagai manifestasi Hyang Widhi.
Rsi Yadnya, merupakan upacara yang berhubungan orang-orang suci yang berjasa dalam pembinaan agama Hindu.
Pitra Yadnya, merupakan upacara yang di tujukan kepada roh-roh leluhur, meliputi upacara kematian sampai pada upacara penyucian roh leluhur.
Bhuta Yadnya, meliputi upacara yang ditujukan kepada bhuta kala yaitu roh-roh di sekitar manusia yang dapat mengganggu.
Manusa Yadnya, meliputi upacara daur hidup dari masa kanak-kanak sampai dewasa.
BIDANG PENDIDIKAN, KESENIAN, KESUSASTRAAN
Pendidikan ketika ini mempunyai corak yang sesuai dengan masyarakat tradisional. Pendidikan dilakukan oleh golongan elite atau inisiatif pribadi. Pendidikan yang menonjol pada waktu itu adalah pendidikan keagamaan dan hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kerajaan.Pura Dasar Gelgel
Orang-orang yang memberikan pendidikan terdiri dari orang-orang Brahmana. Orang-orang yang memberikan pelajaran disebut Sang Guru. Orang yang belajar disebut "sisya". Dalam proses belajar di sebut "aguru" sedangkan proses memberikan pelajaran disebut "asisia". Sebagai seorang sisya harus mentaati peraturan-peraturan yang ketat.
Sejak runtuhnya kerajaan Majapahit (1523 M) banyak warganya mengungsi ke Bali dengan memindahkan segala yang dapat di bawa, termasuk seni dan budaya dengan seni tarinya. Kemudian seni tari ini berkembang dengan suburnya terutama zaman keemasan pemerintahan Dalem Batur Enggong (1460-1550). Hal in disebabkan raja menaruh perhatian besar dan memberikan pengayoman terhadap perkembangan kesenian khususnya seni tari di samping pemerintahan yang aman dan tentram.
Dalam masa Pemerintahan Dalem Batur Enggong di Bali, naskah-naskah lontar banyak dibawa dari Jawa ke Bali. Kalau kiranya yang demikian tidak terjadi, maka tidak akan banyak lagi yang tinggal dari kesusastraan Jawa Kuna. Kebanyakan naskah lama kedapatan di Bali karena di Jawa naskah Kuna kurang mendapat perhatian lagi karena masuknya Islam.
![]() |
| Pura Segening Gelgel |
Pura-pura yang dibangun atas petunjuk Dang Hyang Dwijendra adalah :
Pura Purancak di Jembrana,
Pura Rambut Siwi di dekat desa Yeh Embang dibangun kembali atas petunjuk beliau dan di sana disimpan potongan rambut Dang Hyang Dwijendra,
Pura Pakendungan di desa Braban Tabanan, di sini disimpan keris beliau.
Pura Sakti Mundeh dekat desa Kaba-kaba Tabanan.
Pura Petitenget di pantai laut dekat desa Kerobokan (Badung) di sini disimpan pecanangan (kotak tempat sirih) dan
Pura Dalem Gandhamayu yang terletak di desa Kamasan (Klungkung) di tempat itu beliau menemukan bau harum sebagai isyarat dari Hyang widhi.
PEMERINTAHAN RAJA RAJA GELGEL
DALEM KETUT NGULESIR ( 1320 - 1400 ) M
Merupakan raja pertama dari periode Gelgel yang berkuasa selama lebih kurang 20 tahun (tahun 1320-1400). Ada beberapa yang dapat diamati selama masa pemerintahan raja Gelgel pertama, raja dikatakan berparas sangat tampan ibarat Sanghyang Semara, serta memerintah dengan bijaksana dan selalu berpegang pada Asta Brata.
Dalem Ktut Ngulesir adalah seorang raja yang adil, suka memberi penghargaan kepada orang yang berbuat baik, serta tidak segan-segan menghukum mereka yang berbuat salah. Baginda menganugrahkan suatu predikat tanda penghargaan wangsa "Sanghyang" dengan sebutan "Sang" kepada masyarakat desa Pandak, di mana mereka bermukim dahulu.Pura Dasar Gelgel
Pada masa pemerintahan prabhu Hayam Wuruk yang mengadakan upacara Cradha dan rapat besar, dihadiri pula oleh Dalem Ktut Ngulesir beserta semua raja-raja di kawasan Nusantara. Kehadiran dengan tata kebesaran itu menimbulkan kekaguman para raja yang lain serta masyarakat yang menyaksikan. Beliau disertai oleh Patih Agung, Arya Patandakan, dan Kyai Klapodyana (Gusti Kubon Tubuh).
DALEM BATUR ENGGONG ( 1460 - )
Dalem Batur Enggong memerintah mulai tahun 1460 M dengan gelar Dalem Batur Enggong Kresna Kepakisan, dalam keadaan negara yang stabil. Hal ini telah ditanamkan oleh almarhum Dalem Ktut Ngulesir, para mentri dan pejabat-pejabat lainnya demi untuk kepentingan kerajaan.
Dalem dapat mengembangkan kemajuan kerajaan dengan pesat, dalam bidang pemerintahan, sosial politik, kebudayaan, hingga mencapai zaman keemasannya. Jatuhnya Majapahit tahun 1520 M tidak membawa pengaruh negatif pada perkembangan Gelgel, bahkan sebaliknya sebagai suatu spirit untuk lebih maju sebagai kerajaan yang merdeka dan berdaulat utuh. Beliau adalah satu-satunya raja terbesar dari dinasti Kepakisan yang berkuasa di Bali, yang mempunyai sifat-sifat adil, bijaksana.
DALEM BEKUNG
Setelah wafatnya Dalem Watur Enggong, maka menurut tradisi yang berlaku, baginda digantikan oleh putra sulungnya yaitu I Dewa Pemayun, yang selanjutnya disebut Dalem Bekung. Karena umurnya belum dewasa, maka pemerintahannya dibantu oleh para paman dan Patih Agung. Para paman yang membantu adalah : I Dewa Gedong Artha, I Dewa Nusa, I Dewa Pagedangan, I Dewa Anggungan dan I Dewa Bangli. Kelima orang itu adalah putra I Dewa Tegal Besung saudara sepupu Dalem Waturenggong.
DALEM SAGENING
Dalem Sagening dinobatkan menjadi raja pada tahun 1580 M. Menggantikan Dalem Bekung dalam suasana yang amat menyedihkan, dan Dalem Sagening seorang raja yang amat bijaksana, cerdas, berani, berwibawa maka dalam waktu yang singkat keamanan kerajaan Gelgel pulih kembali. Sebagai Patih Agung adalah Kryan Agung Widia putra pangeran Manginte, sedangkan adiknya Kryan Di Ler Prenawa diberikan kedudukan Demung.
Dalem Sagening menetapkan putra-putra baginda di daerah-daerah tertentu, dengan jabatan sebagai anglurah antara lain :
I Dewa Anom Pemahyun, ditempatkan di desa Sidemen (Singarsa) dengan jabatan Anglurah pada tahun 1541 M, dengan patih I Gusti Ngurah Sidemen Dimade dengan batas wilayah di sebelah timur sungai Unda sampai sungai Gangga, dan batas wilayah di sebelah utara sampai dengan Ponjok Batu.
I Dewa Manggis Kuning,( I Dewa Anom Manggis) beribu seorang ksatria dari Manggis, atas permohonan I Gusti Tegeh Kori dijadikan penguasa di daerah Badung. Namun karena sesuatu peristiwa beliau terpaksa meninggalkan daerah Badung, pindah ke daerah Gianyar.
Kyai Barak Panji, beribu dari Ni Pasek Panji, atas perintah Dalem di tempatkan di Den Bukit sebagai penguasa di daerah itu, dibantu oleh keturunan Kyai Ularan. Dia sebagai pendiri kerajaan Buleleng yang kemudian bernama I Gusti Panji Sakti.
Dalem Anom Pemahyun. Setelah Dalem Sagening wafat pada tahun 1665, maka I Dewa Anom Pemahyun dinobatkan menjadi Raja dengan gelar Dalem Anom Pemahyun. Dalam menata pemerintahan Dalem belajar dari sejarah dan pengalaman. Karena itu secara progresif dia mengadakan pergantian para pejabat yang kurang diyakini ketulusan pengabdiannya.
Dalem Dimade. Setelah Dalem Anom Pemahyun meninggalkan istana Gelgel, maka I Dewa Dimade dinobatkan menjadi susuhunan kerajaan Bali dengan gelar Dalem Dimade 1665-1686, seorang raja yang sabar, bijaksana dalam mengemban tugas, cakap memikat hati rakyat. Patih Agung adalah Kyai Agung Dimade (Kryan Agung Maruti) berkemauan keras dan bercita-cita tinggi. Kyai Agung Dimade adalah anak angkat I Gusti Agung Kedung. Sebagai demung diangkat Kryan Kaler Pacekan dan Tumenggung adalah Kryan Bebelod.
KRYAN AGUNG MARUTI
Kebesaran kerajaan Gelgel yang pernah dicapai kini hanya tinggal kenang-kenangan di dalam sejarah. Setelah Dalem Dimade meninggalkan istana Gelgel tahun 1686 M maka kekuasaan di pegang oleh Kryan Agung Maruti sebagai raja Gelgel. Namun Bali tidak lagi merupakan kesatuan di bawah kekuasaan Gelgel, malainkan Bali mengalami perpecahan di antara para pemimpin, kemudian mucul kerajaan-kerajaan kecil yang berdaulat, sehingga daerah kekuasaan Kryan Maruti tidak seluas daerah kekuasaan kerajaan Gelgel yang dahulu.
Langganan:
Entri (Atom)

